Pendahuluan
Kondisi cuaca dan iklim bumi ini semakin lama semakin tidak menentu dan kurang bersahabat. Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya penyimpangan dari kondisi rata-rata jangka panjangnya. Sejak tahun 1980an para peneliti dan pemerhati meteorologi meyakini akan terjadi beberapa penyimpangan iklim global seperti prakiraan akan terjadi kenaikan temperatur sekitar 1,0—4,5°C yang dilandasi oleh teridentifikasinya peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi dua kali lipat sampai akhir abad ke-21 (Pred Pearce, 2002).
Salah satu gejala alam yang dapat menyebabkan penyimpangan dari kondisi rata-rata tersebut adalah gejala El Nino dan La Nina. Istilah El Nino dikenal pertama kali tahun 1982 yang berdampak pada banyaknya kekeringan, juga kemudian La Nina disebut para ahli sebagai kebalikannya yang menyebabkan cuaca buruk dan banyak hujan di tempat lain pada saat terjadi El Nino.
Pertanian adalah sektor yang paling nyata terkena dampak kejadian yang dikatakan sebagai anomali iklim ini. Kegagalan panen akibat curah hujan yang tinggi pada musim kemarau di areal persawahan pada tanaman padi, kematian tanaman akibat kekeringan yang panjang dan kebakaran hutan menimbulkan persoalan besar karena negara-negara tetangga ikut juga merasakan asap tebal. Di bidang pertanian dikabarkan kerugian mencapai 797 miliar pada saat terjadi El Nino dan La Nina (BPS, 1999), belum di bidang yang lain.
Penyimpangan kondisi iklim dari rata-rata jangka panjang inlah yang menyebabkan para ahli pertanian khususnya agronomis tidak mudah untuk merencanakan program-program pertanian, misalnya rencana penjadwalan penanaman dan pemeliharaan menjadi lebih sulit untuk tanaman perkebunan dan semusim. Prediksi yang handal mengenai musim mendatang tentang El Nino dan La Nina ataupun kondisi normal terasa sangat penting.
Apa El Nino dan La Nina itu?
El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya bayi atau anak kecil, peristiwa ini dikaitkan dengan banyaknya ikan akibat naiknya arus dari dasar laut bersama plankton yang merupakan makanan ikan kecil di kawasan pantai barat Amerika Selatan (Peru). Sedangkan La Nina kebalikannya, yaitu turunnya arus laut sehingga suhu laut bertambah dingin dan ikan menjauh. Adapun keterkaitannya dengan kondisi cuaca dan ikim di bumi adalah akibatnya terhadap peredaran udara dalam skala global atau ribuan kilometer, dimana peredaran udara adalah cara alam membagi energi yang diterima dari matahari menuju keseimbangan sehingga menimbulkan kondisi cuaca dan iklim yang bervariasi karena proses fisika terjadi dalam pemerataan energi tersebut.
El Nino merupakan istilah yang menggambarkan munculnya arus laut yang panas di kawasan lautan Pasifik ekuator bagian timur atau perairan bagian barat benua Amerika, dan La Nina adalah adanya arus laut yang lebih dingin dari rata-ratanya di kawasan tengah dan timur lautan Pasifik ekuator. Para ahli meteorologi banyak menyebutnya dengan istilah Warm Event (kejadian panas) untuk El Nino dan Cold Event (kejadian dingin) untuk La Nina.
Dengan kenaikan suhu air laut yang ekstrim di lautan Pasifik ekuator bagian timur sekitar perairan Amerika Selatan (El Nino), maka di wilayah tersebut penguapan meningkat dan pembentukan serta pertumbuhan awan konvektif sangat cepat. Kondisi ini didukung oleh ikut naiknya suhu atau turunnya tekanan udara. Sedangkan di kawasan ekuator lautan Pasifik barat sekitar wilayah Indonesia dan Australia Utara mengalami kebalikannya (La Nina), hal ini menyebabkan pergerakan angin menuju ke arah timur membawa uap air dari barat yang berdampak kepada kekeringan walaupun pada musim hujan. Perbedaan anomali suhu muka laut dan tekanan udara ini telah diamati sebagai acuan tanda datangnya penyimpangan pola iklim ini. Para ahli mengamati perbedaan tekanan udara dan suhu permukaan laut untuk Pasifik barat di perairan Darwin dan pada Pasifik timur di laut Tahiti
Kondisi Rata-Rata Iklim Indonesia
Salah satu unsur iklim yang paling utama dalam pertanian adalah curah hujan. Secara keseluruhan rata-rata curah hujan di Indonesia cukup tinggi berskisar 2.000 mm/tahun. Hal ini disebabkan wilayah Indonesia terletak di daerah tropika yang lembab dan banyak mengandung uap air akibat penyinaran matahari hampir separuh hari atau dua belas jam.
Wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi seperti Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Adapun yang curah hujannya rendah antara lain daerah Nusa Tenggara dan sebagian Sulawesi (Yusman H., 2005).
Perbedaan curah hujan di wilayah-wilayah tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara lain ketinggian tempat dan pola pergerakan angin. Berdasarkan penelitian para ahli klimatologi, iklim Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga pola hujan yaitu ekuatorial, moonsun dan lokal.
1. Pola Ekuatorial.
Pola ini berhubungan dengan pergerakan semu matahari atau pergerakan zona konvergensi ke arah utara dan selatan, ditandai dengan dua kali maksimum curah hujan dalam satu tahun yang disebut dengan bimodal yaitu dua puncak hujan. Di Indonesia terjadi di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan.
2. Pola Moonsun.
Pola moonsun dipengaruhi oleh angin laut dan angin darat dalam skala yang sangat luas (Daljoni N., 1997). Dikaitkan dengan perbedaan yang jelas antara musim hujan dan kemarau dalam satu tahun. Pola iklim moonsun ditandai dengan pola hujan unimodal (satu puncak hujan) yang terdiri dari: tiga bulan musim hujan (MH) pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF); tiga bulan musim kemarau (MK) pada bulan Juni, Juli dan Agustus (JJA); enam bulan masa peralihan (MP) yaitu masa peralihan kemarau (MPK) pada bulan Maret, April dan Mei (MAM) dan masa peralihan hujan (MPH) pada bulan September, Oktober dan November (SON). Kondisi ini terjadi di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.
3. Pola Lokal.
Pola lokal sangat dipengaruhi oleh kondisi setempat terutama karena naiknya udara menuju dataran tinggi atau pegunungan serta adanya pemanasan local yang tidak seimbang (Yusman, 2005). Kadang pola ini merupakan kebalikan pola moonsun. Kondisi ini terjadi di Maluku, Papua dan sebagian Sulawesi.
Tabel 1. Pola Hujan Di Indonesia Pada Kondisi Normal (Yusman, 2005).
Pola Hujan Wilayah
Ekuatorial Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Kalbar,
Kalteng.
Moonsun Lampung, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel,
Sulsel.
Lokal Kaltim, Sulut, Sulteng, Sultra, Maluku, Papua.
Dengan pola hujan yang ada disetiap daerah, para petani telah terbiasa merencanakan budidaya tanamannya. Namun ketika terjadi penyimpangan seperti El Nino dan La Nina, pola iklim tersebut tidak lagi konsisten dan menimbulkan kerugian yang cukup serius bahkan dapat mempengaruhi perekonomian negara.
Prediksi El Nino dan La Nina
Untuk memprediksi El Nino atau La Nina, para ahli meteorologi biasanya menggunakan tiga cara yaitu:
1. Melihat prediksi curah hujan beberapa bulan mendatang.
Jika sebagian besar curah hujan di suatu daerah 85%--115% dari rata-rata tahunannya berarti disebut normal, dapat dikatakan peluang terjadi penyimpangan seperti El Nino dan La Nina kecil. Bisa kita lihat pada website bmg (http:/www.bmg.go.id) atau NOAA (http:/www.pmel.noaa.gov)
2. Melihat prediksi anomali suhu muka laut (sea surface Temperature Anomaly=SST) Biasanya dengan panduan tabel indikator kekuatan El Nino hasil penelitian tahun 1978 sebagai berikut:
Tabel 2. Indikator Kekuatan El Nino (Quinn, 1978).
Anomali Suhu Muka Laut (°C)
Kondisi >=3 2—3 1—2 0—1 -1-- -2 -2-- -3 <=-3
El Nino K S L N - - -
La Nina - - - N L S K
3. Melihat SOI.
Indeks Osilasi Selatan (Soutern Oscilation Index) disingkat SOI didapat dari perbedaan tekanan udara atau tekanan udara Tahiti (Amerika Selatan bagian barat) dikurangi tekanan udara Darwin (Australia Utara) yang disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 3. Kekuatan Soutern Oscilation Index (Malaysian Meteorogical Services,2001).
Nilai SOI Fenomena yang terjadi
<-10 selama 6 bulan El Nino kuat
-5 -- -10 selama 6 bulan El Nino sedang sampai lemah
-5 – 5 selama 6 bulan Normal
5 – 10 selama 6 bulan La Nina lemah sampai sedang
>=10 selama 6 bulan La Nina kuat
Cara praktis untuk melihat prediksi El Nino adalah dengan mengakses internet dengan situs atau alamat yang ada. Mencari informasi iklim regional maupun global dapat diperoleh dari instansi dalam dan luar negeri seperti NOAA dan IRI dengan bahasa inggris serta BMG dalam bahasa Indonesia dan Inggris dan banyak lagi. Alamat website yang biasa digunakan yaitu: http:/www.bom.gov.au , http:/www.pmel.noaa.gov , http:/www.iri.ideo.columbia.edu/forecast , http:/www.bmg.go.id, atau http:/maritimlampung.co.id .
Contoh Prediksi El Nino dan La Nina.
Di bawah ini diberikan contoh cuplikan prediksi El Nino yang dikutip dari internet:
“Hingga akhir Februari 2008 anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator berkisar antara -1,5°C, kondisi ini menggambarkan masih terjadinya La Nina yang sudah berlangsung sejak Agustus 2007 dan mulai Januari 2008 intensitasnya meningkat ke tingkat sedang hingga kuat. Kondisi ini diprakirakan masih berlangsung hingga Mei-Juni 2008, sedangkan Juli diprakirakan meluruh menuju keadaan normal, hal ini memungkinkan banyaknya hujan pada musim kemarau tahun ini atau yang disebut kemarau basah”. (BMG, 2008).
Kesimpulan dan Saran
1. Terjadi penyimpangan pola iklim Indonesia terutama curah hujan yang sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian.
2. Prediksi tentang El Nino dan La Nina dapat diketahui dengan praktis melalui media-media pelayanan jasa BMG secara regional.
3. Dilakukan penelitian dan kebijakan yang mendukung strategi memilih pola usaha tani dan teknologi yang paling tepat untuk antisipasi penyimpangan iklim ini setelah mengetahui prediksi dari instansi yang berwenang.
Penyimpangan kondisi iklim dari rata-rata jangka panjang inlah yang menyebabkan para ahli pertanian khususnya agronomis tidak mudah untuk merencanakan program-program pertanian
Selasa, 23 Desember 2008
El-NINO
Diposting oleh
imbuhyuwono
di
02.26
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar