Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki karakteristik klimatologi yang khas, yaitu temperatur dan kelembapan udara yang tinggi serta curah hujan yang melimpah. Total curah hujan terutama ditentukan oleh Monsun Barat dan Daerah Konvegensi Intertropik (ITCZ). Pulau Jawa sebagai bagian integral dari kepulauan Indonesia berada di bawah pengaruh Monsun Asia yang terdiri dari Monsun Barat Laut (November-April) dan Monsun Tenggara (Mei-Oktober). Akibatnya Jawa bagian barat dan seluruh pesisir selatan mempunyai curah hujan rata-rata tahunan tinggi (lebih dari 2000 mm) dan tidak ada bulan kering (kurang dari 150 mm); sedangkan pada bagian timur laut mempunyai curah hujan antara 1500-2000 mm dan mempunyai bulan kering.
Curah hujan di Indonesia khususnya pulau Jawa juga dipengaruhi oleh fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang dikenal dengan El Nino dan La Nina. El Nino menyebabkan berubahnya zone konvergensi menjadi divergensi. Hal ini disebabkan karena adanya pemanasan samudera Pasifik yang mengakibatkan pusat tekanan rendah bergeser ke timur, sehingga di Indonesia tidak terjadi hujan; sedangkan kondisi La Nina memberikan pengaruh yang berlawanan. Badan Meteorologi dan Geofisika melalui Prosedur Peramalan Iklim menggolongkan daerah di Indonesia termasuk pulau Jawa ke dalam beberapa Daerah Prakiraan Musim (DPM), yang dibentuk berdasarkan daerah-daerah dengan perbedaan musim yang jelas.
Menurut Sudibyakto (2000) osilasi selatan berasosiasi dengan El Nino dan La Nina yang disebut ENSO. Landscheidt (2000) mengungkapkan bahwa ENSO merupakan sumber terkuat dalam variasi alami dari sistem iklim global; sehingga secara umum iklim Indonesia dipengaruhi oleh fenomena ENSO (BOM Australia, 2001). ENSO merupakan hasil siklus pemanasan dan pendinginan permukaan laut bagian tengah dan timur samudera Pasifik yang dikenal dengan nama El Nino dan La Nina (Daly, 2000). El Nino merupakan periode ketika temperatur permukaan laut pada bagian tengah dan timur samudera Pasifik tropis lebih panas dari normal; sedangkan La Nina dikatakan sebagai periode ketika temperatur permukaan laut lebih dingin dari normal (Phillander, 1985 dalam Kirono dan Khakim,1998). Kondisi normal samudera Pasifik ditandai dengan fenomena umbalan atau up welling (Daly, 2000).
Pada kondisi normal, Indonesia memiliki curah hujan yang besar karena merupakan pertemuan antara dua sirkulasi udara yaitu Sirkulasi Walker dan Sirkulasi Hadley (Tjasyono, 1999). Sebaliknya pada kondisi El Nino samudera Pasifik menjadi lebih panas dari normal, sehingga tekanan udaranya menjadi rendah, oleh karena itu, angin permukaan dari arah timur melemah dan wilayah hujan juga bergeser ke timur dan jatuh di samudera Pasifik yang berakibat tidak terjadinya hujan di Indonesia (Kirono dan Khakim, 1998; Wiratmo, 1998; Eakin, 2001).
Penelitian ini menggunakan data curah hujan musiman tahun 1951-1997 pada masing-masing DPM. Data yang digunakan terdiri dari empat parameter hujan yaitu Permulaan Musim Hujan, Permulaan Musim Kemarau, Total Hujan Musim Hujan dan Total Hujan Musim Kemarau. Pengaruh ENSO terhadap permulaan musim hujan yaitu adanya El Nino memperlambat permulaan musim hujan dan adanya La Nina mempercepat permulaan musim hujan. Kondisi La Nina mempunyai pengaruh yang nyata yaitu memperlambat permulaan musim kemarau, hal ini dapat dimaklumi karena selain daerah yang bersangkutan sedang mengalami musim hujan, juga mengalami tambahan input hujan dari kondisi La Nina. Walau demikian kondisi ini tidak berlaku pada tahun tertentu (1971, 1977, dan 1988).
El Nino kurang berpengaruh terhadap Total Hujan Musim Hujan. Hal ini teramati dari tingkat penyimpangan yang tidak terlalu jelas apakah mengurangi atau menambah total hujan; sebaliknya pada kondisi La Nina Total Hujan Musim Hujan cenderung meningkat, walaupun hanya sedikit. Sedangkan pengaruh ENSO terhadap Total Hujan Musim Kemarau cukup besar. Kondisi El Nino mengurangi Total Hujan Musim Kemarau yang cukup besar dengan penyimpangan mencapai 97% dan 100%. La Nina memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan Total Hujan Musim Kemarau dengan memberikan penyimpangan lebih dari 127% dan 196%.
Sumber : Raswa, E.,2001, Pengaruh El Nino Southern Oscillation Terhadap Sebaran Curah Hujan Di Pulau Jawa, Skripsi Sarjana, Fakultas Geografi, UGM, Yogyakarta.
Jawa bagian barat dan seluruh pesisir selatan mempunyai curah hujan rata-rata tahunan tinggi (lebih dari 2000 mm) dan tidak ada bulan kering (kurang dari 150 mm); sedangkan pada bagian timur laut mempunyai curah hujan antara 1500-2000 mm dan mempunyai bulan kering.
Senin, 12 Januari 2009
temperatur dan kelembapan udara yang tinggi serta curah hujan yang melimpah
Diposting oleh
imbuhyuwono
di
01.43
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar